Monday, 2 September 2013

[Fanfiction] Beep Beep – When your phone was ringing



Title : Beep Beep – When your phone was ringing
Author : Gue lah, masa elo ? (firdaprilia_)
Cast : Marcus Cho, Rachel Kim
Genre : Thriller – NOT ROMANCE (bcs I hate romance-_-)
Rating : PG 17 (padahal authornya baru 14 xD)
Inspired By : BrilliantGivya
“Ayo bermain denganku.. Sebelum kalian mendengar bunyi Beep.. Beep..”



-***-
Tes kelulusan sebentar lagi, dan itu artinya belajar di sekolah hingga malam. Belum lagi status sekolah sebagai Foreign School, mewajibkan mereka untuk mengikuti test 2 bahasa asing yang mereka pilih di awal tahun pelajaran. “Kriiiiiiingggg….”, bunyi bel yang memekakkan telinga terdengar di seluruh penjuru sekolah menengah atas Kyungshin.
Jarum jam sudah berada pada angka 9 yang berarti penantian seluruh siswa – siswi disini untuk segera berbaring di kasur mereka yang empuk akan segera terwujud. Rachel membayangkan seberapa bahagianya tulang – tulang dan seluruh anggota tubuhnya ketika bersentuhan dengan empuknya sang kasur. Dua orang siswa tampak saling membalap untuk meraih pintu gerbang. Yap ! Mereka adalah Rachel Kim dan Marcus Cho. Mereka menubruk apa saja yang menghadang langkah mereka. Membuat suara cempreng Luna semakin terdengar cempreng, “Marcuuuuus ! Rachelllll ! Awas kalian !”. Mereka terkenal sebagai  partner in crime –setidaknya itulah julukan mereka di sekolah ini. Dalam beberapa menit sepanjang koridor kelas penuh dengan sumpah serapah.
“Kan pelajarannya sudah selesai”, jawab enteng si yeoja. Lalu ia melesat bak buronan polisi yang sudah mahir melarikan diri. Rachel meloncat – loncat kegirangan karena lebih sampai lebih awal di gerbang. Sahabatnya, Marcus, masih tertinggal jauh dibelakang. Sepertinya ia terjebak arus siswa – siswi lain yang juga ingin cepat pulang.
“Arra, arra, my partner in crime, kali ini kau boleh menang”, terengah – engah Marcus berbicara pada Rachel.  Jangan salah jika memandang Marcus. Dilihat dari bentuk tubuhnya memang atletis, kakinya juga panjang, tapi ia sangat payah dalam urusan olahraga – apalagi lari. Ia tak pernah gagal membuat guru olahraga mengomel setiap hari. Pukulan volli yang selalu meleset, kaki yang tak pernah bisa mengapung di air jika pelajaran berenang, hingga lemparan bola baseball  yang selalu mengenai murid lain. Menyelesaikan lari sprint hingga finish pun ia tak sanggup. Kalau saja ia tak pandai dalam bidang Fisika dan Matematika, ntah apalagi kelebihan yang bisa dibanggakan dari lelaki kurus tinggi ini.
Sambil berjalan menuju halte, Rachel memberikan Marcus sebotol air mineral. Marcus pun dengan sangat bersenang hati menerimanya, bagai anak kecil yang sedang naik odong – odong xD. Rachel tersenyum geli melihat ekspresinya. Halte bus terdekat berjarak sekitar 250 meter dari gerbang sekolah. Tetapi sekitar seminggu yang lalu terjadi kecelakaan beruntun yang menyebabkan halte itu rusak dan harus diperbaiki. Rachel sempat melihatnya kemarin, dan ia bergidik ngeri. Halte itu lebih terlihat seperti habis diserang ratusan shinobi (pasukan ninja di anime Naruto yang suka ditonton adek gue) daripada ditubruk sebuah mobil.  Jadi untuk beberapa hari ke depan, terpaksa ia dan Marcus harus berjalan lebih jauh untuk mencapai halte darurat.
Marcus menyenggol lengan Rachel, Rachel menjawab, “Ada apa ?”.
“Kau tahu tidak, kenapa halte itu hancur lebur?”.
Rachel mengiyakan pertanyaan Marcus, “Kudengar ada kecelakaan beruntun yang melibatkan truk tronton dan SUV…”. 
“Tidakkah kau merasa ada yang ganjal dengan kecelakaan itu?” pertanyaan Marcus itu cukup membuat alis Rachel terangkat.
“Ada yang janggal?”
“Begini, apa itu masuk akal, sebuah mobil SUV yang kecil dapat merobohkan bangunan halte, light banner, sampai pilarnya ? Woahhh”
Mendengarnya, Rachel seperti menyadari sesuatu, dan ia pun mengangguk. Ia cukup mengakui dalam hati berapa digit IQ Marcus walaupun baru mengenalnya saat kenaikan kelas tahun lalu. Benar juga, halte bus di Seoul umumnya terbuat dari pilar besi yang kokoh, bahkan untuk membuat pelapis atapnya, pemerintah membutuhkan waktu lebih dari dua bulan agar tetap kokoh. Cukup janggal jika mobil SUV yang terbilang kecil dapat merubuhkan halte berpilar tersebut. Untuk beberapa saat, mereka kembali diam. Ketika melewati banner yang sedang memutar sponsor Lott* Mart dengan bintang iklan Girls Generation, Marcus lagi lagi tidak bisa menahan mulutnya untuk mengoceh, mengagumi berlebihan wajah anggun Yoona – sang visual grup tersebut. Setahu Rachel, Marcus memang sangat cerewet – jika bersamanya.
“Rachel-ah! Kau pernah dengar teror beep beep? Kau percaya dengan teror beep beep?”
Tawa Rachel pecah dalam sedetik. Perempuan itu memegangi perutnya, seolah mengejek Marcus yang cemberut. Apa yang salah dengan ucapannya?
“Hei, jangan cemberut! Oke, oke! Aku berhenti tertawa!” Rachel merangkul bahu Marcus sebagai permintaan maaf, “Lucu saja, kau bisa tau teror beep beep. Biasanya ‘kan anak lelaki tidak percaya dengan hal mistis! Apalagi kau adalah anak yang kudet” ucap Rachel.

Tetapi mendadak ia sedikit takut. Siapa yang tidak tahu teror beep beep? Sebuah panggilan akan masuk ke handphonemu, dan kau harus mau melakukan apa yang diperintahkan oleh si penelpon misterius. Kalau tidak, si penelpon akan mengirimkan berbagai kesialan yang akan menimpa si korban. Dan jika nasibmu sial, telepon itu akan terputus sehingga terdengar bunyi beep… beep… maka saat itulah nyawamu akan melayang sia-sia.

Setidaknya itu yang Rachel tahu dari cerita yang beredar di kalangan netizen. Korban hanya selamat kalau tidak ada bunyi beep beep di handphonenya.
 
Tring… Tring…

 
Handphone Marcus tiba-tiba berbunyi. Rachel terkesiap, wajah Marcus pun terkejut. Rachel semakin bergidik, setelah membayangkan tentang teror beep beep barusan, anehnyasuara panggila masuk itu terdengar menyeramkan.


Marcus hendak mengeluarkan ponsel dari satu hoodienya, tapi ditahan oleh Rachel, “Jangan, Marcus. Bagaimana kalau itu teror beep beep?”
Glek! Satu telan saliva yang pahit baginya, melihat layar ponsel Marcus menampilkan sebuah private number.


“Lihat, private number! I said, dont pick it up, Marcus!” tanpa sadar Rachel membentak.
“Rachel-ah… ada apa denganmu, eoh? Kenapa kau jadi ketakutan seperti ini” Marcus terkekeh geli sambil menyentuh puncak kepala Rachel yang sedikit lebih pendek darinya, menepuknya dengan sayang.
“Tadi aku hanya bertanya sedikit tentang terror beep beep, mengapa kau jadi ketakutan setengah mati, eh? Haha.. lucu sekali”
“Marcus. Kubilang. Jangan. Diangkat.”
Marcus tersenyum jahil. Sengaja mengangkat layar ponsel di depan matanya dan memencet tombol accept.
Yeoboseyo?” ucap Marcus.
Hening. Tak ada jawaban sama sekali, itu yang bisa ditangkap oleh Rachel karena memang itu kenyataannya. Meski bukan psikolog, ia tahu Marcus juga tengah ketakutan seperti dirinya. Semua orang juga akan ketakutan kalau tidak ada satupun suara saat sudah mengangkat panggilan masuk. Segera direbutnya handphone itu dan memencet tombol merah.


“Aneh, kok tidak ada suara sama sekali, ya?” tanya Marcus.
“Kubilang apa, hah? Mempercayai teror beep beep memang terdengar bodoh. Tapi kalau teror itu benar benar ada dan kita adalah korban selanjutnya, bagaimana?!”

Mereka kemudian melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda. Sedikit shock dengan kejadian barusan. Mereka kira ada hubungannya dengan teror beep beep. Udara malam semakin dingin. Marcus pun melepas jaketnya dan memberikan pada Rachel yang terus bersin sedari tadi. Tiba-tiba sebuah dering telepon kembali membuat perjalanan mereka terhenti.

Bersama-sama, Marcus dan Rachel melihat layar ponsel. Napas mereka tertahan. Lagi lagi private number… Tanpa meminta keputusan Rachel, Marcus menekan tombol accept serta tombol loudspeaker. Tangannya bergetar.
Yeoboseyo…” ucap Marcus.
Keduanya saling menatap. Ketakutan jelas-jelas ada.
Yeoboseyo?” Marcus mengulang sekali lagi. Sementara disampingnya, Rachel merasa lututnya berubah mejadi pasir, hampir tidak kuat menopang tubuh karena ketakutan. Yang ada dipikirannya adalah, bagaimana kalau mereka adalah korban teror beep beep yang selanjutnya?
“Yah! Mian, Marcus-ah! Ponselku dipakai mainan oleh keponakanku yang masih kecil. Sedari tadi ia menelpon semua nomor yang ada di kontak! Aish, saldoku menipis! Sudah ya, kututup!!!”

Itu suara si cempreng Luna. Biasanya Rachel malas saat mendengar suara cempreng yang secepat kereta itu. Namun untuk kali ini Rachel sangat berterimakasih, setidaknya bukan suara si peneror misterius. Marcus pun menepuk bahu Rachel.

“Rachel-ah! Kita memang terlalu parno. Lagipula mana ada terror semacam itu? Ayo kita pulang!” ia sedikit tertawa saat menggeret leher Rachel dengan lengan kanannya. Tapi lagi-lagi ponsel Marcus berdering, membuat Rachel kesal dan langsung merebutnya. Ia mengangkat panggilan itu dan bersumpah akan memarahi keponakan Luna habis-habisan.
“Yah! Anak kecil, jangan bermain dengan handphone bibi Luna! Kembalikan handphonenya ke bibimu, dasar bocah!”


Yeoboseyo… Bagaimana kalau bermain-main sebentar denganmu, Rachel-ssi?”

Napas Rachel tercekat. Suara di ponsel itu berat, tidak mungkin kalau itu suara Luna, apalagi keponakannya. Lagipula bagaimana bisa orang diseberang mengetahui kalau namanya Rachel? Padahal ini ponsel milik Marcus. Dilihatnya ponsel, tertera tulisan private number di sana. Seolah mengerti apa yang terjadi, Marcus menekan tombol loudspeaker.
“Siapa ini?” tanya Marcus pelan.

“Oh, anyyeong, Marcus-ssi!” suara itu seolah memiliki kekuatan berbeda yang mampu membuat Rachel ketakutan.
“Kau siapa?” ulangnya.
Ah, itu rahasia!
“Ayo bermain denganku.. Sebelum kalian mendengar bunyi Beep.. Beep..”.
Demi apapun juga, Rachel sudah kehilangan napasnya. Apa yang ditakutkannya sedari tadi akhirnya muncul juga. Teror beep beep… pantas saja tadi pagi ibunya melarangnya berangkat ke sekolah karena memiliki firasat yang buruk. Inikah arti firasat itu?

Marcus, matikan handphonemu! Cepat matikan!!!” bentak Rachel tepat sebelum orang misterius itu berdehem,
Sekarang cepat matikan loudspeakermu dan jangan tutup teleponnya. Kalau kalian tidak menurutiku…”

 
Mereka berdua menunggu kalimat selanjutnya, dan dalam hitungan detik, tiba-tiba seekor kucing liar mengeong kasar dan meraih lengan
Rachel. Tanpa menunggu waktu, kuku-kuku kasar kucing itu berhasil memberi bekas sayatan yang cukup dalam pada pergelangan tangan Rachel. Tepat di pembuluh darahnya.
Rachel berteriak. Air mata yang turun tidak kalah deras dengan darah merah yang keluar tiada henti. Walaupun hanya luka kecil, hal itu sangat-sangat perih.

“… aku akan membunuh kalian.


Tanpa pikir panjang,
Marcus langsung menuruti penelpon misterius itu. Ia mematikan loudspeaker, menempelkan ponsel itu di telinga, serta menarik lengan Rachel untuk segera menjauh dari kucing itu.

Hei, santai,
Marcus! Tidak perlu tergesa-gesa seperti itu!

“Kau mengawas kami?”


Tidak… hanya membuntuti kalian…” jawaban itu membuat
Marcus menoleh kesana-kemari. Ia pun berhenti sebentar untuk merobek kaus basket dari dalam ransel, lalu membalutkannya pada pergelangan tangan Rachel agar pendarahannya cepat berhenti. Perempuan di depannya itu masih terisak sambil menggenggam lengan baju Marcus seerat yang dia bisa.

First play. Aku ingin kalian lari. Sekarang!!!


Marcus mengambil ponsel yang sempat diletakkan di atas tanah dan kebingungan saat mendengar perintah itu, “ne? lari? ”

Kubilang lari!”


Marcus langsung menyeret lengan Rachel dan berlari kencang. Rachel mengikutinya meskipun dengan langkah yang terseok-seok. Banyak pejalan kaki yang melihat mereka dengan tatapan aneh. Oh, bahkan di tempat seramai ini, mereka tetap merasa terpojok dan kesepian. Memang siapa yang bisa menolong mereka?

Marcus-ah… aku lelah. Tidak bisakah kita berhenti sebentar saja?”

“Tidak,
Rachel! Orang itu memerintahkan kita untuk terus berlari!”

Mereka belum melihat, semerah apa kain putih yang sedang membalut tangan
Rachel. Berlari membuat jantung manusia berdetak lebih cepat dari keadaan normal, aliran darah pun mengalir sangat cepat. Menyebabkan darah terus mengalir dan tak kunjung membeku. Bahkan kain itu sudah mengeluarkan tetesan-tetesan darah yang merembes.

Entah sudah berapa menit mereka berlari tak karuan seperti ini. Saat
Rachel berhenti berlari karena terjatuh, suara di seberang telepon langsung menggertak marah dan secara tiba-tiba sebuah baliho besar hampir menimpa Rachel kalau saja Marcus tidak menariknya.

“Sampai kapan kita seperti ini?” tanya
Marcus pada hanphonenya. Dari cara bicaranya dengan intonasi rendah dan napas tersengal-sengal, orang bodoh pun tahu Marcus kelelahan.

Kalian sudah lelah?” tanya suara berat itu. “Oke, berhenti!”

 
Kaki jenjang
Marcus langsung berhenti, walaupun sedikit sulit karena tadi larinya sangat kencang. Ditambah ia menggenggam tangan Rachel. Tubuhnya jatuh di atas aspal, disusul Rachel yang menindihnya sedetik kemudian.

Nice position,
Marcus-ssi. Apa kau tahu, Rachel sangatlah manis,“
Marcus menepuk-bepuk dadanya sambil terbatuk, “bisakah kau membebaskan kami?”
Membebaskan kalian? Untuk apa?”
“Memang untuk apa kau menjadikan kami korban?”

Sementara itu Rachel kesusahan mengatur napasnya. Ia bangun dan mengamati wajah Marcus, memberi tatapan ‘apa yang sedang kau dengar?’. Ia merasa suhu tubuhnya semakin tinggi. Sakit yang sempat mendera pergelangan tangannya tadi sudah tidak terasa. Diamatinya keadaan sekitar. Mereka sedang berada di tepi jalan raya yang cukup sepi. Hanya satu dua kendaraan yang melintas dengan kecepatan tinggi. Dimana ini? Sejauh itukah mereka berlari?

Andai saja Rachel menyadari bahwa bibirnya memucat. Ia sudah kehilangan banyak darah.
Tangan Rachel langsung mengambil alih handphone dari genggaman Marcus.
“Kau, apa maumu sekarang?” bentak Rachel.


Bertemu lagi, Rachel-ssi! Ngomong-ngomong, apa kau melihat sebuah bak sampah di sebelah kirimu?
Rachel segera menoleh dan memang ada sebuah bak sampah bertengger tak jauh dari sisi kirinya, “ya, ada bak sampah.”


“Ambillah salah satu tikus di sana. Bedah perutnya menggunakan bolpoin di ranselmu.”

Gila, ini gila!
Rachel tertawa masam sambil menangis saat itu juga. Di sampingnya, Marcus sedang menangkup pipinya erat, “Rachel-ah, jangan menangis! Dia bilang apa?”
Rachel berusaha menjawab dengan tenang, “Ia ingin aku membunuh tikus di bak sampah untuk mengambil cincinnya… Marcus-ah, bagimana ini?”


Mata Marcus berpindah-pindah, dari Rachel yang sedang menangis ke handphone secara bergantian. Ia melempar pandangan yang tidak bisa diartikan oleh siapapun. “Mengambil cincin di perut tikus? A… atau aku saja yang melakukannya?” penawaran itu langsung dijawab gelengan oleh Rachel. Penelpon misterius itu menginginkan Rachel yang melakukannya, tentu ia tidak boleh melempar tugas nya pada Marcus semaunya.
Marcus segera menempelkan ponsel di telinga, seperti ingin bernegoisasi dengan peneror itu. Tetapi sayangnya, suara mencekam tersebut kembali menginterupsi sebelum ia sempat bicara apapun, “Kuhitung sampai tiga, kalau Rachel tidak melakukannya…


“Rachel, ia menghitung sampai tiga! Cepat ambil tikusnya!”
Rachel tidak pernah menyangka, nasibnya akan berakhir seperti ini. Rachel rindu ibunya. Ia ingin kepalanya dibelai oleh tangan ibu sebelum tidur. Ia juga merindukan ayahnya. Ia ingin pergi memancing bersama di waktu senggang. Ia rindu kamarnya… Ia rindu laptopnya...


Tanpa terasa setetes air mata kembali jatuh dari pelupuk mata Rachel.
Tangan Rachel gemetaran ketika masuk ke bak sampah. Ia memejamkan mata dan merasakan sesuatu bergerak-gerak di sana. Tikus. Dalam jumlah banyak. Dan masih hidup.  Setelah memantapkan hati, ia mencengkeram salah satu benda yang bergerak tak karuan itu, lalu membantingnya ke tanah. Terus menerus, hingga hewan menjijikkan bernama tikus itu tak bernyawa.


Kemudian Marcus melempar sebuah bolpoin padanya, yang nantinya digunakan Rachel untuk membedah perut hewan di tangannya itu.


Ia sudah membedah 3 tikus… namun tidak ada satupun cincin di dalamnya…
Rachel terus menangis sambil membedah. Benar-benar muak pada pemandangan menjijikkan di depannya. Apa ini? Usus, darah, lendir…


Saat mengambil tikus ke-empat dari bak sampah, ia menjerit karena salah satu tikus telah menggigit jari telunjuknya.


“Cukup… cukup!!! AKu tidak mau melakukan ini!!!” teriak Rachel frustasi. Ia menendang bak sampah hingga seluruh tikus yang terkurung di dalamnya bisa kabur dengan bebas. Dihampirinya Marcus yang masih menempelkan handphone di telinga. “bilang padanya, aku tidak sanggup lagi membedah tikus-tikus itu!!! Bilang padanya, aku ingin pulang ke rumah, jangan bunuh aku!”


Marcus pun mengulangi kalimat yang diteriakkan sahabatnya itu dengan terbata-bata. Suasana mencekam hanya diisi oleh isak tangis Rachel. Tak lama kemudian Marcus menoleh.


“Ia bilang, ia marah… kau tidak menuruti permintaannya. Tikus yang membawa cincinnya sudah kabur. Ia benar-benar marah padamu…”


Rachel tertawa masam dan merebut handphone itu dalam sekali hentakan.


“DASAR GILA!”
Beep… beep… beep… beep…
Oh, tidak… suara beep beep.


Detik selanjutnya, sebuah truk menghantam tubuh Rachel dengan hebat. Truk itu terperosok ke sungai setelah menyeret tubuh Rachel dengan membabi buta di sepanjang aspal. Tubuh Rachel terlempar tepat di tengah jalan. Tidak bisa bergerak, ia juga kehilangan kaki kanannya. Kini tubuhnya seperti sebuah pipa air yang dilubangi di banyak tempat. Darah mengucur di mana-mana.
Sebelum kedua matanya benar-benar tertutup, ia dapat melihat Marcus yang berdiri mematung di pinggir jalan. Marcus… Seharusnya lelaki itu tidak menyaksikan ini semua. Sebelum mati. Ia ingin berterima kasih padanya yang telah menjadi salah satu sahabat terbaiknya.


Tapi… tiba-tiba Marcus tersenyum. Senyumnya berbeda.


Itu senyum kemenangan. Seolah puas menyaksikan tubuh Rachel yang kini tak berdaya.
Rachel pun ingat, tadi Marcus yang memberinya bolpoin untuk membunuh dan membedah perut tikus.
Padahal ia tidak pernah memberi tahu Marcus kalau ia harus membunuh tikus dengan bolpoin…

Di saat kelopak mata Rachel menyempit, senyum Marcus malah semakin lebar… Marcus tertawa.

-***-
“Ayo bermain denganku.. Sebelum kau mendengar bunyi Beep.. Beep..”

No comments:

Post a Comment