Thursday, 15 January 2015

Mawar Hitam

Seandainya aku menjadi bunga,
mawar hitam di tepi jurang adalah diriku…
“Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baiknya perhiasan adalah wanita sholihah.” (HR. Muslim).
Jika

suatu hari Allah menakdirkan aku untuk menjadi sekuntum bunga, aku akan lebih memilih menjadi sekuntum bunga mawar hitam kelam penuh duri yang tumbuh di tepian jurang. Aku tidak mau menjadi bunga mawar merah merona tanpa duri yang tumbuh di taman bunga yang luas, bersamaan dan berdampingan dengan bunga-bunga yang lainnya.
Karena, mawar merah merona itu semua orang pasti menyukainya, apalagi tanpa duri, semua orang pasti mampu memetiknya. Tangan-tangan jahil itu mampu memetik daunnya, perlahan namun pasti bunganya pun mampu mereka petik. Banyak toko bunga yang menjual bunga mawar merah, dan dengan uang semua orang mampu membelinya. Bunga mawar yang cantik di tengah mawar-mawar yang lainnya tentu tidak istimewa, biasa-biasa saja.
Aku ingin menjadi bunga mawar hitam penuh duri, karena orang yang memetikku, pastilah orang yang tulus ikhlas menyayangiku, bukan melihatku dari keindahan fisik semata. Penuh duri agar aku istimewa dengan penjagaan-Nya. Tidak berhenti sampai di situ, karena aku tumbuh di tepi jurang. Seseorang yang berani mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya-lah yang mampu memetikku dan menjagaku dalam cinta dan keta’atan pada-Nya.
»» READ MORE..